Obat-obat batuk
(antitussiva) tentu mengandung zat-zat yang mampu meredakan batuk.Zat-zat
tersebut berfungsi meredakan dan menenangkan dinamakan zat sedatif.Sedatif ini
berfungsi menurunkan aktivitas, mengurangi ketegangan dan bersifat menenangkan
penggunanya. Zat-zat sedatif yang lazim terkandung dalam obat batuk antara laindekstrometorfan,
fenilefrin, difenhidramin, bromheksin, amonium klorida dan sebagainya. Zat-zat
tersebut menimbulkan efek sedasi dan mampu menurunkan aktivitas motorik
penggunanya.Cara kerja zat-zat tersebut
dengan menekan rangsangan batuk dan mengencerkan dahak, namun bila
disalahgunakan dengan dosis tinggi dapat terjadi efek stimulasi sistem saraf
pusat. Selain itu, efek dari obat batuk yang menimbulkan kantuk adalah hipnotik
dengan dosis rendah. Obat hipnotik ini berfungsi menimbulkan rasa kantuk dan
mempercepat tidur si pengguna obat batuk agar batuknya tidak mengganggu orang
lain. Biasanya terdapat pada obat untuk batuk yang parah.
Efek
samping dari obat-obat pereda batuk bila penggunaannya melebihi dosis
menyebabkan mual, muntah, pusing dan termangu-mangu.Dosis tinggi dapat
menyebabkan efek sentral (otak). Berdasarkan untuk mekanisme kerjanya obat
batuk dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu :
a. Zat
pelunak batuk
Zat pelunak batuk (emolliesia yang
memperlunak rangsangan batuk melumas tenggorok agar tidak kering dan melunakkan
mukosa yang teriritasi.
b. Ekspektoransia
Zat-zat ini memperbanyak produksi
dahak (yang encer) dengan demikian mengurangi kekentalannya, sehingga
mempermudah pengeluarannya dengan batuk.
c. Mukolitika
Asetilsistein, mesna, bromeksin,
dan ambroksol.Zat-zat ini berdaya merombak dan melarutkan dahak sehingga
viskositasnya dikurangi dan pengeluarannya dipermudah.
d. Antihistaminika
Obat ini efektif berdasarkan efek
sedatifnya dan juga dapat menekan perasaan menggelitik di tenggorokan.
e. Anestetika
lokal
Contohnya pentoksiverin.Obat ini
menghambat penerusan rangsangan batuk ke pusat batuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar